Selasa, 16 Desember 2008

Pemain vs Pelatih

Aku pernah membaca sebuah novel. Kisahnya bener-bener menyentuh & ada beberapa kalimat yang membuatku tergugah :
Hubungan cinta bukanlah hubungan pelatih – pemain. Satunya berlari-lari sekuat tenaga mengelilingi lapangan, sementara yang satunya lagi berdiri menunggu sambil mengamati stopwatch dan berteriak-teriak mengingatkan.Sebab menjalin hubungan yang baik itu harus saling menyesuaikan diri untuk mencari titik temu. Bukannya bersikap egois dengan memandangnya hanya dari kerangka pemikiran sendiri dan mematok nilai-nilai yang tegas untuk memaksanya menuruti semua standar yang kita inginkan dan menjadi orang yang kita inginkan. Atau merasa diri jadi bagian yang terpenting dari suatu hubungan sehingga selalu mendominasi dan menuntutnya mengikuti semua yang kita anggap baik …

(Tiba-tiba aku teringat segala kesalahanku pada "seseorang". Memang, aku jarang meluangkan waktu untuk memahaminya. Memaksa dia untuk memahamiku saja. Mendorong dia terus berlari mengejar ambisi ~ lebih tepatnya disebut ambisiku. Hingga saat membiarkannya pergi, aku baru sadar bahwa pelatih tidak berguna tanpa pemain ; bahwa pelatih tidak berarti apa-apa tanpa pemain di sisinya. Penyesalan memang tidak pernah berguna apa-apa, selain untuk memetik hikmah. Ketika datang kesempatan membina hubungan lagi dengan "seseorang" yang baru, aku tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar